
Makassar – Mahasiswa program doktor Administrasi Publik, Azhary Sirajuddin meraih gelar Doktor Administrasi Publik dari Universitas Hasanuddin (Unhas) dengan predikat “sangat memuaskan”. Hal ini setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul “Model Public Private Partnership dalam Pengelolaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap pada PT Bosowa Energy di Kabupaten Jeneponto,” pada ujian promosi yang digelar di gedung LPPM UNHAS, kampus Tamalanrea, Makassar 20/5/2025).
sidang promosi ini dipimpin oleh Prof. Dr. Phil Sukri, M.IP, M.Si, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) atas nama Rektor Unhas. adapun tim Promotor Prof. Dr. H. Muh.Akmal Ibrahim, M.Si (Ketua), Prof. Dr. Hasniati, S.Sos, M.Si, dan Prof. Dr. H. Muhammad Yunus, MA selaku co-Promotor merangkap sebagai penguji bersama tim penguji terdiri atas : Dr. H. Zainal Arifin Paliwang, SH, M.Hum (Penguji Eksternal yang juga Gubernur Provinsi Kalimantan Utara) dan penguji internal : Prof. Dr. H. Badu Ahmad, M.Si, Dr. H. M. Iqbal Sultan, M.Si, dan Dr. Sawedi Muhammad, M.Sc.

Dalam disertasinya, promovendus menyimpulkan, keadilan pada ‘Public Private Partnerhip’ (PPP) — kerja sama antara sektor publik (pemerintah) dengan swasta — dalam pengelolaan PLTU pada Bosowa Energi di Kabupaten Jeneponto menunjukkan, dalam pengelolaannya, tercermin dalam pembagian biaya dan manfaat yang transparan melalui ‘Power Purchase Agreement’ (PPA) — perjanjian antara produsen (pembangkit) listrik dengan pembeli listrik yang dihasilkan. Pembangunan dan pengelolaan sepenuhnya menjadi tanggung jawab PT Bosowa Energy dan PT PLN Persero melakukan “power purchase” terhadap produksi listrik PLTU.
“Efektivitas pada “Public Private” dalam pengelolaan PLTU pada Bosowa Energy di Kabupaten Jeneponto menunjukkan bahwa pengoperasian dan pemeliharaan PLTU telah dilaksanakan secara efektif oleh PT Bosowa Energy yang menggunakan teknologi canggih dan kerja sama dengan vendor guna menekan biaya produksi dan meningkatkan ‘output’,” ujar promovendus yang dilahirkan di Makassar 18 Januari 1964 tersebut.
Ayah tiga anak yang menyelesaikan Magister Administrasi Publik di Unhas (1996) itu mengatakan, efisiensi PPP dalam pengelolaan PLTU pada Bosowa Energy di Kabupaten Jeneponto menunjukkan, pengelolaan PLTU oleh Bosowa Energy dinilai efisien dengan pengawasan berkala oleh PT PLN Persero. Meskipun demikian, kendala pasokan batu bara berkualitas tinggi menghambat pengoperasian yang optimal.
“Efisiensi juga terhambat oleh keterlambatan pembayaran oleh PT PLN Persero kepada PT Bosowa Energy yang mempengaruhi kelancaran operasi,” ujar Dirut PT Ciptaniaga Makmur Abadi Jakarta tersebut.
Mengenai eksportabilitas pada Public Private Partnership dalam pengelolaan PLTU pada Bosowa Energy di Kabupaten Jeneponto, kata Promovendus, menunjukkan, pengalihan alokasi risiko pembangunan, pengoperasian serta pemeliharaan sepenuhnya menjadi tanggung jawab PT Bosowa Energy, sehingga tidak membebani pemerintah dalam pengalokasian sumber daya seperti anggaran. Hal ini telah sesuai sebagaimana skema PPP yang diterapkan.
“Penelitian ini merekomendasikan responsivitas menjadi elemen pelengkap untuk mendorong keberhasilan model PPP efektif. Responsivitas kedua belah pihak dalam melaksanakan tanggung jawab masing-masing yang tertuang dalam PPA sangat penting untuk memastikan PPP berjalan dengan baik,” ungkap anak mendiang pasangan H. M. Sirajuddin Madjid-Hj Ningki Syamsuddin tersebut.
Azhary Sirajuddin dalam penelitiannya menyarankan, secara khusus diharapkan adanya peningkatan peran atau kontribusi dalam hal mengatur dan mengawasi distribusi batu bara serta memberikan dukungan yang lebih kuat dalam hal kebijakan agar ketersediaan batu bara yang berkualitas dan terjangkau dapat lebih stabil.
“Selain itu pengawasan regulasi dan penciptaan kebijakan yang memperlancar investasi swasta perlu dimaksimalkan. Untuk menghindari hambatan dalam operasional, PT PLN Persero perlu memastikan sistem pembayaran yang tepat waktu”. jelasnya.
Pembayaran yang tepat waktu akan meminimalisasi risiko finansial bagi PT Bosowa Enery, khususnya dalam pengadaan batu bara dan operasional produksi listrik. Untuk mengatasi keterbatasan pasokan batu bara berkualitas tinggi, PT Bosowa Enery dan PT PLN dapat mengeksplorasi sumber batu bara alternatif yang lebih terjangkau dan mudah diakses, sehingga produksi listrik tetap terjaga dengan biaya yang efisien.
PT Bosowa Energy merupakan perusahaan “joint venture” antara Sumbergas Sakti Prima dan Bosowa Corporation yang bergerak dalam bisnis penyediaan tenaga listrik untuk memenuhi kebutuhan regional Sulawesi Selatan dan Barat. Tenaga listrik yang dibangkitkan disalurkan ke sistem jaringan Sulselbar milik PT PT PLN Persero dengan kontrak kerja sama berdurasi 30 tahun.
PLTU ini berlokasi di Desa Punagaya, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto telah memiliki 4 pembangkit dengan total kapasitas terpasang 520 MW yang dibangun di atas lahan 100 hektare. Proses pembangunan dimulai dengan pemurnian air laut menjadi air demin yang menjadi umpan ‘boiler’ untuk produksi uap dengan bahan bakar utama batu bara. Uap air yang bertekanan dialirkan ke turbin untuk memutar generator yang berfungsi untuk menghasilkan tenaga listrik.
PLTU ini secara komersial beroperasi tahun 2012 dengan senantiasa menerapkan mutu lingkungan sebagai acuan dalam menetapkan pola operasi sehingga proses produksi berwawasan lingkungan secara berkesinambungan. Sebanyak 626 karyawan di PLTU ini di bawah naungan PT D & C yang berada pada PLTU PT Bosowa Energy.